Sebuah Ketikan Tangan

Sebuah Jejak 

Ini merupakan sebuah cerita tentang hari-hari keputusasaan dan juga keterpaksaan. Ketika otak dan juga rasa malas harus dipaksa untuk faham dan juga mengerti beberapa bait materi tentang hal-hal yang bukan passion, aah. Editor ataupun cameramen adalah sebuah kegiatan mengisi waktu yang memang dijadikan luang sebisa mungkin. Beberapa bait puisi atau entah apa itu juga berhasil di rangkai selama Satu bulan kelahiran kali ini (Agustus), bulan lahir negeri ini, dan juga sekaligus bulan kebangkitan si luwak ini dari alam rahim, hahaa. Begini bunyinya.

Malam semakin menggigit

Oh, ternyata karena dia datang

datang dan melambaikan entah apa itu tangan atau kaki

seraya berkata,

Selamat malam

Terbesit sebuah senyum yang dulu aku dambakan

yang dulu aku usahakan

dan yang sudah pernah aku lupakan

Malam minggu pertama di Ibukota,

Aah, Jancuk Sekali Rasanya

Segelas kopi disajikan oleh para begundal begundal muda itu. Kuseruput sedikit demi sedikit kopi yang terlampau manis rasanya. Terbesit kenangan dan sedikit senyum manis di Karangjahe kala itu. Senyum yang Sumpah,,Tuhan tolong  ukir senyum itu di hatiku selamanya.

Tuhan, Gusti, Robbi, Ya Allah

Aku sudah tahu apa yang sangat ingin aku usahakan,

Aku tahu apa yang selama ini aku doakan,

Dia lah jawabnya,

Kau hadapkan aku didepanya,

Cukup satu ini Tuhan,

Akan kujaga dia,

Tolong bantu aku,

Jodohkan dia untukku.

Indah mempesona bersama dengan angin yang mengusapkan sedikit belaianya ke wajahmu menambah dalam rasa yang tumbuh.

Aaahhsyuuungguh nikmat mana lagi yang mau aku dustakan?,

dan maafkan aku Tuhan, Cintamu aku bagi kepada satu insanmu ini.

dari sekian banyak orang yang kau ceritakan,, kenapa harus aku yang pergi? Kenapa bukan Iqbal, Wafa, ataupun si Naufal yang kau paksa pergi, kenapa aku?  Pergi bersama rasa, dan hanya meninggalkan luka? Ooh,aku faham,  kamu sedang bermain, bermain-main dengan Iqbal, Wafa, Naufal, dan juga aku, ooh bukan itu maaf,, kamu sedang bermain main dengan hal yang tabu bagiku. 

-_- TTD Luwak


Yang Berada Dalam Pelukan

Poernama, bentuk rembulan yang dielu elukan akan indahnya cahya redup yang menemani syahdu malam minggu para pujangga menggoreskan tinta, atau hanya sekedar memijat lembut script-script yang gagal terbit haha.

Cara menulis sebuah kisah biasanya di dasari dengan pengalaman penulis, baik secara langsung apa yang sudah penulis alami,  maupun hanya sekadar khayalan fiksi kehidupan kaum borjuis yang punya segala atau malah kehilangan segalanya. 

Tapi kali ini, kisah akan di awali oleh seorang pemuda yang setiap langkahnya ditikam oleh keadaan, dan takdirnya hampir dilumpuhkan berulang kali. 

Entah akan jadi apa tulisan ini, ataupun akan masuk genre apa nantinya. Tulisan ini akan terus berlanjut, hingga umur sudah mencapai batas waktunya. Yaah sekali lagi, bila penulis ingin menulis, yang biasanya karena patah. 

Kali ini, aku lihat gambaran tentang apa itu penghianatan dari buih asmara kaula muda saat ini. Entah apa arti setia yang ada disetiap kepala mereka. Mungkin setia bagi mereka adalah ketika memiliki hanya satu kekasih yang memiliki jabatan pacar. Atau mungkin hanya ketika engkau berhubungan intim dengan satu orang saja. 

Entah apa yang mereka pikirkan, masa bodoh dengan apa yang mereka pikirkan, itu hak mereka. Tetapi, apa yang aku tahu dan yakini sampai saat ini tentang setia dalam sebuah hubungan adalah, ketika engkau faham dan sadar akan ada seseorang, atau malah dua orang lebih, kekasih dan juga buah kasih sedang menunggu dan yakin kalau kamu merasa dan tahu jika kepulanganmu ditunggu dan diharap keselamatanya, tak kurang secuil dagingpun dari tubuhmu. Apa lagi menambah seonggok darah dan juga daging lagi dari orang lain. 


Share this

Related Posts

Latest
First